Jumat, 26 Juli 2013

Tafsir Surat An-Naba’ 37-38: Malaikat Pun Takut di Hari Penghisaban - 2

  1. 3. Maksud dari kata tersebut adalah salah satu tentara Allah. Ia bukan juga dari golongan malaikat. Ia memiliki beberapa kepala, tangan, dan kaki. Mereka pun bisa makan. Inilah pendapat yang dipegang oleh Mujahid. Tentara tersebut adalah makhluk dalam bentuk manusia, akan tetapi tidak seperti manusia.
  2. Kata Ar-ruh dipahami sebagai para tokoh malaikat. Demikian yang dikatakan oleh Muqatil bin Hayyan.
  3. Kata Ar-ruh dipahami sebagai para penjaga malaikat. Demikian yang dikatakan oleh Ibnu Abu Najih.
  4. Kata Ar-ruh dipahami sebagai para anak adam. Inilah yang dipegang oleh Hasan dan Qatadah. Ia adalah salah satu makhluk Allah yang berbentuk anak Adam. Tidaklah turun malaikat dari langit kecuali bersamanya satu “ruh” (makhluk berbentuk anak Adam).
  5. Athiyyah berpendapat bahwa ruh-ruh anak Adam berdiri berbaris, lalu para malaikat pun berdiri berbaris. Ini terjadi di antara tiupan sangkakala, sebelum ruh itu kembali ke tubuh.
  6. Zaid bin Aslam berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kata ar-ruh adalah al-Qur’an. Hal ini berpegang pada firman Allah Swt., “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al-Qur’an) dengan perintah Kami.” (QS. Asy-Syuuraa [42]: 52)

Mengenai kedelapan pendapat di atas, Ibnu Jarir Ath-Thabari memberikan tanggapan sederhana, bahwa pendapat yang benar adalah sesungguhnya Allah Swt. telah mengabarkan bahwa makhluk tidak dapat berbicara dengan-Nya pada saat berdirinya ar-ruh, dan ar-ruh adalah salah satu jenis makhluk-Nya.Bisa jadi ar-ruuh adalah salah satu dari ke delapan pendapat di atas.

Jika saya, kata Ibnu Jarir, ditanya yang manakah itu? Maka saya jawab, tidak ada kabar yang pasti menyebutkan siapa yang dimaksud dengan kata ar-ruh tersebut. Saya lebih memilih memasrahkannya kepada Allah. Karena tidak ada hujjah yang menunjukkannya dan bukanlah kesesatan bila tidak mengetahui kepastiannya.

Pelajaran yang Dapat Dipetik

Adalah pelajaran yang paling berharga dari ayat 37-38 dari surat An-Naba’ bahwa ketika hari berbangkit telah tiba, maka tak seorang pun dapat membela diri. Jika sudah terjadi persidangan Allah yang kerap disebut dengan penghisaban amal, maka tak seorang pun bisa meminta pertolongan kepada orang lain. Jika di dunia ini kita masih bisa mengandalkan pengacara, maka di akhirat tidak ada lagi pengacara. Kejahatan yang dilakukan akan ditampakkan Allah kepada kita.

Yang bisa berbicara di hari itu hanya orang-orang yang memang diizinkan oleh Allah Swt. Bahkan para Malaikat Allah ketika itu pun tak berani melakukan apa pun, tanpa ada izin dari Allah. Bukan hanya manusia yang takut di hari berbangkit tersebut, para malaikat Allah pun juga takut.

Karena itu, hendaklah kita beramal shaleh dengan ikhlas karena Allah. Pasalnya, tak ada yang dapat menolong kita di hari tersebut. Tak ada pembicaraan yang terjadi pada hari tersebut, kecuali hanyalah kebenaran. Kebenaran menyatakan tiada tuhan selain Allah. Hanya Allah Tuhan yang memiliki sifat kasih sayang yang sesuai dengan namanya Ar-rahman.

Oleh : Rahmat Hidayat Nasution

0 comments :

Poskan Komentar