Kamis, 06 Desember 2012

Seri Terapi Penyakit Hati (2): Doa

“Sesungguhnya doa itu adalah senjata bagi orang yang beriman, tiang agama, dan sinar langit dan bumi.”

Penyakit hati sangat erat kaitannya dengan ruh, keimanan dan keyakinan pada Allah SWT. Seberapa akrab interaksi kita dengan sang Khalik sangat berpengaruh terhadap kualitas kesehatan hati. Oleh karena itu, doa menjadi salah satu media penyembuh yang efektif dalam terapi penyakit hati.

Dalam buku ‘Terapi Penyakit Hati’ Ibnu Qoyyim al-Jauzi mengatakan bahwa doa adalah obat mujarab untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Baik penyakit fisik, hati maupun penyakit ruhani. Namun, terkabulnya doa sangat tergantung pada kesungguhan dan kemauan orang yang bersangkutan. Ibnu Qoyyim juga menegaskan bahwa jika menggunakan terapi doa sebagai obat, doa juga harus diiringi dengan keyakinan akan terkabulnya doa tersebut. Seseorang harus memiliki jiwa yang bersemangat. Tidak lemah dan tidak juga pasrah.

Pentingnya Kesungguhan dalam berdoa

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam berdoa.”

Kesungguhan mengandung dua unsur penting, yaitu keseriusan dan kerja keras. Artinya, ketika seorang hamba bersungguh-sungguh dalam berdoa ia akan serius, khusuk dan sepenuh hati dalam menyampaikan hajatnya pada Allah Swt. Tidak hanya sampai disitu, ia juga akan teliti dalam memenuhi dan memperhatikan adab-adab atau etika dalam berdoa.

Orang yang bersungguh-sungguh dalam berdoa juga tidak akan berhenti berdoa sebelum doanya diijabah oleh Allah. Dia akan terus bekerja keras, mengulang-ulang doanya hingga dikabulkan oleh Allah. Mengiringi doanya dengan ikhtiar yang menjadi pintu atau sebab doa itu terkabul. Memelihara hati agar tidak mudah putus asa, memupuk kesabaran dan selalu berbaik sangka pada Allah. Dan, sungguh Allah Maha mengabulkan setiap doa hamba-Nya.

Sebab-sebab Tertolaknya Do’a

Dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Anas bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“Seorang hamba akan selalu baik selama ia tidak tergesa-gesa dalam berdoa”. Para sahabat bertanya, “Bagaimana seseorang tergesa-gesa?” Rasulullah Saw menjawab, “Orang tersebut berkata, ‘Aku telah berdoa kepada Tuhan, namun Dia belum menjawab (mengabulkan) doaku’.”

Ada beberapa sebab tertolaknya doa:

a. Tergesa-gesa dalam berdoa

Tidak sabar atau tergesa-gesa dalam menanti terkabulnya doa adalah salah satu sebab tertolaknya doa. Ibnul Qayyim mengibaratkan seorang hamba yang terburu-buru dalam berdoa tersebut dengan seorang petani yang menanam tanaman di ladangnya. Pada awalnya ia begitu telaten dalam merawat tanamannya. Mulai dari menyiram, menyiangi gulma, memupuk dan sebagainya. Namun, ketika melihat tanaman itu belum juga menghasilkan, ia mulai lemah dan putus asa. Akhirnya ia meninggalkan dan mengabaikan tanamannya yang masih membutuhkan perawatan dan perhatiannya. Akibatnya, tentu saja ia akan kehilangan hasil panen yang diharapkan.

b. Berburuk sangka pada Allah

Sebagaimana dalam hadits qudsi Allah berfirman bahwa sesungguhnya Dia (Allah) sesuai dengan prasangka hamba-Nya.

c. Lalai

“Berdoalah kepada Allah dan kalian harus yakin akan adanya ijabah (jawaban dari Allah). Ketahuilah bahwa Allah tidak akan menerima doa dari orang-orang yang lalai.” (Al Hadits)

d. Memakan harta yang haram

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki-rezeki yang baik yang Kami berikan.” (QS. Al Baqarah:172).

Oleh: Neti Suriana
Referensi:
Al-Jauzi, I. Q. 2005. Terapi Penyakit Hati. Qisthi Press. Jakarta
Husna, A. 2012. Ketika Merasa Allah Tidak Adil. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
Suriana, N. 2011. Doa Penenang Hati. Rumah Ide. Jakarta.

0 comments :

Poskan Komentar