Selasa, 16 Oktober 2012

Perilaku Durhaka Orang Tua Terhadap Anak: Memaksa Anak Menikah Dengan Orang Yang Tidak Disukai (7)

Imam Ahmad dan Nasa’i meriwayatkan hadits yang artinya “Seorang perempuan berkata (kepada Nabi): “Ayah saya telah menikahkan saya dengan kemenakannya agar dapat meringankan beban dirinya.” Rasulullah bersabda: “Saya serahkan urusan ini kepadamu.” Lalu anak perempuan itu berkata: “Saya benarkan apa yang dilakukan ayah saya itu. Tetapi saya ingin agar orang tahu bahwa para bapak tidak mempunyai hak sedikit pun dalam urusan ini.”

Hadits tersebut di atas memberi gambaran jelas bahwa Islam tidak membenarkan langkah orang tua yang menikahkan anaknya secara paksa, baik anak itu perempuan maupun anak laki-laki. Yang dikehendaki oleh Islam ialah calon mempelai benar-benar mengikat perkawinannya atas prinsip saling ridla dan senang hati. Prinsip ini tidak boleh dilanggar oleh siapa pun termasuk ibu dan bapak kandung yang bersangkutan.

Dari beberapa peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah saw, dapat disimpulkan bahwa:
  1. Pernikahan yang dilakukan orang tua atas anak gadisnya tanpa keridlaannya dapat dibatalkan oleh anak gadis tersebut.
  2. Pernikahan yang dilakukan oleh orang tua atas anak gadisnya tanpa persetujuannya lebih dahulu boleh dibatalkan atau diteruskan oleh anak gadis yang bersangkutan.

Dari fakta-fakta tersebut di atas dapat kita pahami bahwa orang tua wajib menghormati hak anak dalam menikah. Pada prinsipnya, memilih suami atau istri menjadi hak anak sepenuhnya. Orang tua yang memaksa kehendaknya, berarti telah berbuat dhalim kepada anak-anaknya. Setiap perbuatan dhalim berarti durhaka terhadap pihak yang didhalimi. Tegasnya, orang tua yang memaksa putra atau putrinya menikah di luar kehendaknya berarti telah berbuat durhaka kepada anak-anaknya.

Karena itu, orang tua yang memaksa anaknya untuk menikah kepada orang yang tidak disukai, sedangkan anaknya ternyata mempunyai pilihan yang menurut agama adalah benar, maka mereka yang menyadari bahwa memaksakan perkawinan kepada anaknya merupakan hal yang bertentangan dengan ketentuan agama, dapat menyerahkan urusannya kembali kepada anaknya. Yaitu jika anaknya suka, boleh ia teruskan; dan jika anaknya memutuskan untuk bercerai, ijinkan dia mengambil jalan perceraian. Tegasnya, orang tua sepenuhnya memberikan kebebasan kepada anaknya untuk melakukan pilihan. Selanjutnya orang tua meminta maaf kepada anaknya karena telah melakukan paksaan yang tidak dibenarkan oleh agama.

Sebaliknya, anak yang terlanjur dipaksa oleh orang tuanya untuk menikah semacam itu, mempunyai hak untuk mengambil dua langkah seperti yang telah dijelaskan oleh Rasulullah pada hadits riwayat Ahmad dan Nasa’i. Langkah tersebut ialah:
  1. Boleh meneruskan; atau
  2. Boleh pula membatalkan perkawinannya.

Jadi, karena hukum untuk memilih suami atau istri oleh agama diberikan kepada yang bersangkutan, maka para orang tua muslim harus menyadari hak anaknya semacam itu dan tidak melanggarnya hanya karena pertimbangan-pertimbangan materi. Anak tidak boleh dianggap seperti boneka yang tidak mempunyai kemauan untuk dapat memilih suami atau istri yang layak bagi dirinya dan sesuai dengan ketentuan agama.

Sumber: 20 Perilaku Durhaka Orang Tua Terhadap Anak
Oleh : Nur Rokhanah

0 comments :

Poskan Komentar