Selasa, 02 Oktober 2012

Pemerataan Pendidikan

Pendidikan merupakan modal yang sangat penting. Di zaman yang serba IPTEK ini mengharuskan setiap orang untuk memiliki pengetahuan atau keahlian khusus yang dapat menjadi patokan hidupnya kelak. Pendidikan yang ada selama ini dimulai dari Taman Kanak-Kanak sampai ke bangku kuliah dengan jenjang doktor (S3). Sedangkan gelar Profesor diperoleh dari pemerintah atas kontribusinya dalam bidang apapun yang dapat membantu kemaslahatan masyarakat banyak.

Namun, keberadaan pendidikan yang ada kebanyakan tidak bisa diperoleh oleh setiap kalangan. Saat ini, jika ingin memperoleh pendidikan yang bagus. Maka harus bersekolah yang memiliki iuran SPP yang selangit. Karena fasilitas berupa laboratorium dan lainnya sangat lengkap. Sehingga sangat menunjang pemahaman dan perkembangan pola pikir pelajar. Lalu bagaimana dengan masyarakat yang kurang mampu?. Walaupun mereka memiliki keinginan dan semangat yang luar biasa. Jika mereka tidak memiliki dana ataupun suatu pihak yang bersedia membiayai pendidikannya secara penuh. Mereka tetap tidak bisa melanjutkan pendidikannya dan sering terpaksa putus sekolah di tengah semester.

Program BOS dan wajib belajar 9 tahun yang dilancarkan pemerintah ternyata belum cukup untuk mencerdaskan pemuda-pemudi bangsa ini. Kebanyakan anak-anak yang keluarganya miskin lebih memilih untuk bekerja membantu meringankan beban hidup keluarganya dibandingkan berkutat dengan buku dan alat tulis di dalam kelas. Selain itu, anak-anak ini masih belum mengetahui pentingnya pendidikan untuk masa depannya. Mereka lebih memilih mencari uang di jalanan atau menjadi pekerja kasar di pasar dengan upah seadanya dibandingkan menimba ilmu yang suatu saat dapat membantu mereka untuk keluar dari lingkaran setan kemiskinan.

Untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya pendidikan. Dibutuhkan penyuluhan dari pemerintah atau dari LSM terkait. Selain itu bantuan dari aparat dan pemuka agama desa juga memegang peranan penting dalam hal ini. Karena banyak masyarakat yang kurang percaya dengan pegawai pemerintah. Oleh karena itu dibutuhkan pendekatan dengan cara lain agar masyarakat mau ikut andil dalam memajukan pendidikan di Indonesia.

Hal lainnya yang patut kita sorot adalah tingginya standar kelulusan Ujian Nasional. Dari tahun ke tahun standar kelulusan ini terus naik. Akibatnya UN menjadi momok bagi pelajar dari SD-SMA. Jika salah satu mata pelajaran tidak mencapai standar dan itu menjatuhkan nilai rata-rata yang ia miliki, maka siswa/i tersebut dapat dinyatakan tidak lulus. Sebuah peraturan yang sangat memberatkan siswa bukan?. Terlebih lagi jika tidak lulus UN siswa tersebut akan menanggung malu dalam jangka waktu yang lama. Berbeda dengan siswa yang tidak lulus masuk PTN. Karena persaingan untuk masuk PTN jauh lebih sulit dibandingkan UN itu sendiri.

UN sendiri terlihat seperti ajang survival. Tetapi, jika lulus itu merupakan suatu hal yang biasa dan jika tidak lulus malu yang ditanggung akan tertanam dalam benak selamanya. Apabila kita telisik lagi UN ini sepatutnya tidak diadakan. Jika diadakan sekalipun bobot soal siswa Jakarta dengan yang berada di pedalaman itu seharusnya dibedakan. Karena selain kualitas pendidikan yang jauh berbeda, pola pikir siswa di kota besar jelas sudah jauh berkembang. Karena itulah menurut saya salah jika pemerintah menginginkan standar kelulusan UN yang sangat tinggi hanya berdasarkan ingin meniru negara tetangga. Seharusnya kualitas pendidikan di Indonesia ditingkatkan lagi. Selain itu peningkatan kualitas ini juga harus dibarengi dengan pemerataan di seluruh pelosok negeri.

Jika peningkatan kualitas dan pemerataannya telah terpenuhi. Seluruh anak dari berbagai kalangan dapat menikmati pendidikan yang berkualitas, maka UN tadi berhak diadakan untuk menguji sejauh mana pemahaman siswa Indonesia terhadap ilmu dasar yang mereka dalami di bangku sekolah. Seterusnya gengerasi penerus bangsa ini pun memiliki kemampuan yang cakap dan mampu untuk menggantikan kedudukan para pendahulu mereka terdahulu, dan menjadikan Indonesia menjadi negara yang lebih baik lagi.

Oleh : Ahmad Azhari Pohan

Related Posts :