Kamis, 30 Agustus 2012

Mempertahankan Semangat Ramadhan

Ramadhan sudah berlalu, membawa ribuan keistimewaan dan keberkahan yang dimilikinya. Sekarang, syetan-syetan tidak lagi dibelenggu, amalan sunnah tidak lagi dinilai sama dengan amalan wajib, dan amalan wajib tidak lagi dilipat gandakan pahalanya hingga tujuh kali lipat seperti di bulan Ramadhan. Sekarang semuanya kembali seperti biasa, seperti sebelas bulan di luar Ramadhan.

Namun, setelah keluar dari Ramadhan dan kembali ke sebelas bulan yang biasa bukan berarti kita harus kembali menjadi manusia dengan semangat biasa. Kita harus tetap memiliki semangat yang luar biasa, semangat Ramadhan yang paripurna. Sehingga, sebelas bulan kita ke depan lebih baik dari pada sebelas bulan kita di belakang. Nah, untuk itu kita perlu mempertahankan semangat Ramadhan yang sudah kita latih dan miliki selama Ramadhan. Pertanyaannya adalah, bagaimana cara untuk mempertahankan semangat Ramadhan tersebut? Apa yang perlu kita lakukan agar semangat Ramadhan tetap ada dan terjaga dalam diri kita?

Berikut adalah beberapa tips yang bisa diterapkan agar semangat Ramadhan tetap ada dan terjaga dalam diri kita, yaitu:

Pertama, ‘mengikuti’ puasa Ramadhan dengan puasa enam hari di bulan syawal. Sebagaimana yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw dalam salah satu hadistnya: “Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian ia iringi dengan (puasa) enam (hari) di bulan Syawal, maka seolah-olah ia berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim, Abu Daud, Thirmidzi, dan Ibnu Majah).

Salah satu hikmah dari anjuran melaksanakan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal (dikenal juga dengan sebutan puasa enam) adalah agar kaum muslimin tetap menyambung tali ketaatan kepada Tuhannya (Allah Swt). Atau dengan kata lain, agar semangat berpuasa, semangat beramal dan semangat Ramadhan itu tetap terpelihara dalam keseharian kita. Meskipun kita sudah berada di luar Ramadhan. Akan lebih baik lagi jika puasa enam ini dilanggengkan dengan puasa-puasa sunnah lainnya seperti puasa senin kamis dan puasa Daud.

Kedua, menjaga atau tetap merutinkan ibadah-ibadah sunnah yang di lakukan selama Ramadhan. Seperti sholat malam, sholat dhuha, dzikir, tilawah, infak, sedekah dan ibadah-ibadah sunnah lainnya. Ibadah-ibadah sunnah (nafilah) yang dirutinkan merupakan salah satu modal besaruntuk mendapatkan kecintaan Allah. Ketika kecintaan Allah sudah diperoleh maka keberkahan-Nya akan senantiasa menyertai hari-hari kita. Artinya setiap saat kita akan senantiasa berada dalam nuansa keberkahan dan kasih sayang Allah. Bukankah kondisi seperti ini tidak jauh berbeda dengan kondisi hari-hari di bulan Ramadhan?

Ketika, jangan pernah bosan berdoa pada Allah swt. Sesungguhnya Allah lah yang memiliki hati-hati kita. Adalah mudah bagi Allah untuk menjaga, menghidupkan atau bahkan menghilangkan semangat itu dari hati-hati kita. Karena itu, mohon selalu pada Allah, agar Ia menjaga dan senantiasa menghidupkan semangat itu dalam hati-hati kita. Keempat, miliki teman dan lingkungan yang senantiasa mendekatkan diri kita pada Allah. Miliki lingkungan yang senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan. Miliki teman yang senantiasa memtivasi kita untuk beramal sholeh dan tiada bosan berbuat baik. Karena teman dan lingkungan adalah cerminan, siapa dan seperti apa diri kita saat ini dan seterusnya.

Oleh: Neti Suriana

0 comments :

Poskan Komentar