Selasa, 28 Agustus 2012

Budaya Instan di Sekitar Kita (Bagian 3): Budaya Instan dalam Pendidikan

Beralih ke ranah pendidikan, kita melihat fenomena yang tidak jauh berbeda. Betapa, keinginan untuk menuai hasil dengan cepat juga ditemui di ranah pembelajaran ini. Di mana seharusnya dunia pendidikan adalah ranah yang mendidik jiwa-jiwa muda untuk mencintai ilmu. Menagajak peserta didik untuk menikmati berlelah-lelah dalam menjalani proses belajar. Bukan mengejar hasil yang instan.

Budaya instan atau cara berpikir yang instan, ingin serba cepat, enggan menjalani proses adalah racun dalam dunia pendidikan. Racun yang akan melemahkan semangat belajar dan melahirkan jiwa-jiwa materialistis. Jiwa-jiwa yang hanya berorientasi pada hasil, mudah putus asa, dan tidak sabar menjalani proses. Jiwa-jiwa seperti ini cenderung akan memilih jalan-jalan instan yang sangat dekat dengan kecurangan. Berikut adalah beberapa fenomena budaya instan yang sempat berkembang di ranah pendidikan, bahkan mungkin sampai hari ini, yaitu:

Budaya mencontek

Budaya mencontek sangat lengket dengan dunia pendidikan. Biasanya banyak menjangkit di kalangan pelajar. Pendorong utama dari kegiatan mencontek tidak lain adalah, keinginan mendapatkan nilai yang tinggi di tengah kepercayaan diri yang terbatas. Ya, pribadi yang suka mencontek adalah pribadi-pribadi yang tidak percaya diri dengan kemampuan dan kapasitas kecerdasannya sendiri. Sehingga, ia mengandalkan kertas contekan atau orang lain untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam menyelesaikan soal-soal ujian di sekolah. Budaya mencontek adalah salah satu bukti nyata fenomena budaya instan di ranah pendidikan.

Generasi Copy Paste

Setali tiga uang dengan budaya mencontek, generasi copy paste juga merupakan bukti nyata fenomena budaya instan di ranah pendidikan. Mulai dari copy paste laporan, copy paste makalah, copy paste tugas kuliah, hingga copy paste skripsi. Pendorong utamanya tetap sama, yaitu ingin mendapatkan nilai maksimal dengan usaha minimal.

Ijazah dan gelar instan

Budaya instan lain yang sangat mencoreng dunia pendidikan kita adalah fenomena ijazah dan gelar instan. Kesaktian gelar dan ijazah dalam mencari kesempatan kerja dan jabatan, telah mendorong banyak pihak untuk berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Berbagai upaya pun dikerahkan, tidak sedikit yang kemudian menempuh bangku pendidikan lagi di usia yang tidak lagi muda.

Namun, ibarat kata pepatah di mana ada gula di situ ada semut. Banyaknya peminat ijazah dan gelar sarjana telah menginspirasi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk memberikan layanan jual beli ijazah dan gelar instan. Mereka mencetak ijazah-ijazah dan gelar-gelar palsu untuk diperjual belikan pada orang-orang yang membutuhkan. Dan, para pengejar ijazah dan gelar pun tidak sedikit yang kemudian tergiur dengan iming-iming ini. Dengan mengeluarkan sedikit uang dan tanpa susah payah harus mengikuti serangkai perkuliahan yang melelahkan mereka bisa mendapatkan ijazah dan gelar yang mereka inginkan. Sebuah pemikiran culas yang menghancurkan esensi dari ijazah dan gelar itu sendiri. Sebuah semangat yang melupakan tujuan mulia dari pendidikan yang sesungguhnya.

Ya, ranah pendidikan bukanlah tempat yang tepat untuk mengembangkan budaya instan. Karena esensi dari pendidikan adalah rangkain proses belajar, bukan hasil dalam bentuk angka-angka. Tujuan dari pendidikan hanya bisa diperoleh melalui serangkai proses yang panjang, bukan hasil yang seketika. Namun apa lajur, tidak ada ranah yang benar-benar steril dari budaya instan. Yang perlu kita lakukan hanyalah membangun jiwa-jiwa yang berkarakter mulia, yang dengan sendirinya mampu menawar racun-racun tersebut.

Oleh: Neti Suriana
Related Posts : budaya , copy , dunia , esensi , fenomena , gelar , ijazah , instan , jiwa-jiwa , maksimal , mulia , neti suriana , nyata , paste , pendidikan , pendorong , proses , proses belajar , racun , ranah

0 comments :

Poskan Komentar